Daftar Blog Saya

Jumat, 14 Oktober 2016

ROLLER COASTER



It’s a roller coaster
Sometimes on the top
Sometimes on the bottom
Sometimes open our eyes
Sometimes close our eyes

It’s a roller coaster
Sometimes we are scream
Sometimes we are be silent
Sometimes we are nervous
Sometimes we are relieve
Sometimes we are happy
Sometimes we are afraid

Life is like ascend a roller coaster
You are happy, but not always
You are sad, not always too
Bright and dark is alternately
The key is just about time

When we are ascend a roller coaster
Time is very fast to move
Suddenly be changeable
Sometimes on the top sometimes on the bottom

Just feel it with a perfect smile
Imagine, it is just temporary
So, you always know to put your patient
When you are not on happiness
And be grateful when you are happy

Don’t forget to be happy to your roller coaster
Go across the rainbow
Say Hi….to birds and aeroplane
Feel the wind

Kamis, 13 Oktober 2016

Rajin mengetuk, banjir hadiah kemudian




Minggu (2/10/2016), saya dan temen-temen kelas menulis rumah dunia ikutan tour literasi. Ada hal menarik ketika seharian ngiderin Indonesia International Book fair (IIBF). Hari itu pas pulangnya saya dan kawan saya ngejinjing tas numayan banyak, yang isinya buku dan majalah-majalah. Dan do you know what? Sebagian tas memang isinya buku-buku belanjaan sendiri dan sebagiannya lagi adalah gretongan alias gratisan. Duh, siapa sih yang enggak suka gratisan. Hayuu, ngacuung!!!

Tapi ternyata oh ternyata, ketika kita celingak-celinguk kanan kiri. Kok, kayanya cuman kita yang penuh yah, yang lainnya seriusan enggak sepenuh kita. Ah, mungkin mereka tidak cinta gratisan apa karena gak tahu? Kan kita agak norak juga kan yah tiba-tiba jadinya hahaha….
Terus temen saya ini nanya
 “kok, tau sih teh bisa gitu, nanya-nanya terus dapet ini itu”
“emang kamu gak tahu?”*tepok jidat
“enggak”

Jadi temen saya ini ternyata kurang tahu. Bahkan ketika kita pulang pun temen yang lain ada yang nanya juga. Lah, saya tiba-tiba mikir, seharian mereka muter-muter aja? Gak coba-coba ngajak ngobrol atau nanya-nanya apa kek ke yang jaga stand.
Saya pikir memang mungkin ada typical orang yang enggan bertanya, enggan memulai, malu dan lebih baik diam. Padahal dengan kita memulai duluan dan bertanya banyak hal yang bisa kita dapat. Selain informasi juga bonusnya dapat hadiah. Jangan pernah meremehkan apa-apa yang didapat sekarang. Misalnya informasi yang mungkin kurang kita butuhkan, brosur-brosur yang isinya tidak membuat kita interest, barang-barang yang mungkin sepele. Kita bukan melihat dari hal-hal yang mungkin sederhana seperti itu. Tapi coba kita pikir, dari keisengan itu, mungkin sebenarnya di depan sana ada kemungkinan-kemungkinan besar yang menanti. 

Dari menclok-menclokin stand, ada info yang memang menarik, mulai dari tentang Frankfurt Book Fair yang ternyata sangat open kepada penulis pemula sekalipun, tiba-tiba ngimpi buku bertuliskan nama sendiri nangkring disana. Sampai ada bagi-bagi visa haji, travelling dan beasiswa juga ada. 

Saya sendiri mungkin karena keseringan wara-wiri sendirian, jadi emang orangnya suka nanya. Kalau enggak gitu bisa-bisa nyasar, atau bingung mau ngapain. Mau di event apa kek atau pergi kemana ya itu kudu “nanya-nanya” kan biar ga sesat dijalan atau salah informasi hihihi. Ditambah lagi baca-baca buku tentang networking atau bisnis. Ternyata kemampuan ini itu penting banget. Misalkan di suatu event atau perjalanan. Rasanya rugi banget gak sih, kalau kita Cuma diem aja. Padahal dari temen duduk kita ternyata banyak informasi yang bisa kita dapat.  

KNOCK IT……
Kadang kita enggan untuk mengetuk, malas untuk ngobrol duluan, malas untuk ikut-ikutan yang kelihatannya sepele. Pas acara, ada tuh bagi-bagi visa haji, gila ituh yang ngantri banyak bu, enggak berhenti-berhenti orang pada ngisi formulir. Mungkin itu sesuatu hal yang random . Bisa enggak sih kita mendapatkan sesuatu tanpa kita nyebur dan menjadi bagian dari kesempatan-kesempatan itu. Emangnya ibu peri, bisa langsung abra kadabra , terus apa yang diinginkan langsung ada di hadapan.  Maka menurut saya, bukankah setiap kesempatan itu harus kita ketuk. Selain berdo'a juga kita harus berusaha. Sepele sih, mungkin ikut-ikutan dan numayan rempong. Tapi mungkin itu juga salah satu bentuk usaha, iya kan? Kita tidak tahu, diusaha mana kita mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut. Itung-itung nabung "usaha".

Sesuatu hal yang free itu sebenarnya tidak free. Tentu saja, kita harus mengantri lama, kadang menjawab kuesioner, memulai komunikasi dengan orang asing. But, for everything you do is worth , bonusnya kaya gambar dibawah ini, dapet beberapa majalah seperti TEMPO, majalah kesehatan, buku-buku, dan pin. Isinya Insya Allah bermanfaat, kartu atau brosur-brosur yang penting juga biasanya saya simpan.


Selain itu, saya juga nyoba ngebatik, simple banget ternyata. Kain polos dialaasin triplek yang sudah dilapisi lem, ditempelkan kainnya sementara biar enggak berubah-ubah. Terus kita tinggal berkreasi deh sesuka kita dengan menggunakan cotton buds yang kita celupkan ke bayclin(klorin). Hasilnya :
Temen saya yang lagi ngebatik

Ini hasil yang saya buat, yang random banget. Soalnya buru-buru. Yang penting kan tahu cara kerjanya hehehe

Ke acara book fair memang menarik, selain hunting buku-buku juga biasanya ada acara talkshownya. Cuma pas hari itu, saya tidak terlalu memperhatikan talkshow. Karena memang waktunya yang mepet hanya seharian, jadi hanya berburu buku saja. Disini banyak banget buku-buku murah, bukan berarti murahan loh yah. Secara kualitas, masih bagus dan isinya memang bagus-bagus kok. Biasanya sih buku-buku yang emang bukan terbitan baru. Kalau diibaratkan harga normal sih, numayan jauh harganya. Saya pernah beli  di bazar buku juga, ternyata memang kita kudu teliti. Pas nyampe rumah ternyata Zonk , maksudnya kurang sesuai dengan apa yang saya harapkan, misalnya saja ternyata isinya hanya kutipan-kutipan. Jangan mentang-mentang murah kita enggak selektif. Cari yang emang kita butuhkan.

Ketika di bis pas pulang, Mas Gol A Gong bertanya kepada kami semua. Apa yang kalian dapatkan dan lihat dari acara ini? Ada yang nyeletuk
" Masa depan"
"Apalagi? Yah, saya tunggu karya kalian di acara ini tahun depan "

Kami diam, mungkin masing-masing dari kami mengamini dalam hati. Sebelum ke acara ini beliau juga sangat menganjurkan untuk datang ke acara ini " Kalian datang yah, ini lebarannya para penulis". Beliau sedang membangunkan kami mungkin, the sleep giant on our self alias potensi yang ada pada diri kami.


The more you ask, the more you get. What i can get? of course information, knowledge, experience or friend maybe. It's more valuable, right?

KNOCK IT, and gift is following you............

Salam Literasi ^.^












Senin, 26 September 2016

Idola remaja masa kini

Hari ini pagi-pagi beli uduk, ketemu guru jaman SMA. Terus sambil nunggu kita ngobrol-ngobrol deh. Beliau cerita kalau salah satu guru mengajaknya untuk "oprasi gincu". Pas saya mendengar pertama kali. Saya diem sambil mikir. What the meaning of "oprasi gincu" saya enggak ngeh, tapi saya mencoba membayangkan bahwa apakah yang dimaksud ibu itu semacam plastic surgery gitu yah, nah kan ada tuh kan di korea sana oprasi bibir biar merah permanen. 

"bu, maksudnya rajia ya bu yang dimaksud oprasi itu?" *tepok jidat baru ngeh
"iya nis, rajia gincu alias lipstik. Anak-anak sekarang lagi ngehits pada pake lipstik di sekolahan. merah-merah dah tu bibir" 
"Masa sih bu, jaman anis mah perasaan gak ada deh. kok bisa sih?"
"Atuh iya kali jaman anis mah. yah nis, kayanya ketularan sinetron deh. Terus nis yah, ibu juga rajia orang lagi pelukan coba. Kayanya pacaran tuh udah biasa jaman sekarang tuh"

Jujur saja, dari obrolan pagi ini saya agak kaget juga dengernya. soalnya jarang-jarang liat anak SMA, jadi merasa  gak ada sesuatu hal yang aneh. Tapi ternyata di luar sana generasi muda kita sedang diserang berbagai penyakit. Penyakitnya ya itu tadi, sinetron maupun youtube yang berkonten kurang mendidik. 
Tantangan orangtua jaman sekarang memang mungkin lebih besar. Karena jaman teknologi canggih seperti ini. Budaya dari negara-negara barat bisa dengan mudah terserap. Jangan sampai kesibukan membuat peran orang tua tergantikan oleh orang asing atau diserahkan ke sekolah begitu saja. 

Apakah mereka kurang sosok idola yang baik yak? kenapa yang dijadiin idola justru yang kurang baik untuk ditiru. Misalnya saja, sekarang itu bukannya jaman televisi tapi youtube. Nah ada beberapa youtuber yang setiap videonya itu bisa nyampe jutaan viewer. Bayangkan, dari penglihatan bisa jadi peniruan prilaku. kata-kata kasar seolah-olah biasa, tato-an dianggap keren. Banyak tuh, yang mengkritik. Tapi seolah-olah bahwa memang "identitasnya" memang seperti itu. katanya ya kalau gak gitu bukan"gue banget". 

kenapa ke"gue banget"nya sesuatu hal yang kurang baik itu tetap dipertahankan dan gak mau dirubah. Apa salahnya dirubah. Biarinlah dikatain alim kek, atau pencitraan. why too afraid what people saying than follow what your heart saying. ketika sudah menjadi idola itu, setiap prilaku itu bisa menjadi inspirasi orang lain, entah itu baik atau buruk. Bukankah jaman sekarang sepertinya antara yang baik dan buruk itu seakan-akan menjadi samar. Ceritanya nonton bule komentar terhadap salah satu video barunya awkarin dan young lex
"Kamu punya power untuk bangsamu tapi bisa dengan cara yang lebih baik.". Bule ini gak setuju bahwa kata-kata kasar bukan jadi pembenaran untuk konsumsi publik. Yah, dari lirik lagunya memang numayan agak kontroversial. Dari video itu ada juga yang membuat lagu antitesisnya, begitulah jaman sekarang, bebas berekspresi. Dalam dunia digital, karya adalah pendapat, kamu mau setuju kek mau kagak yah bisa komentar atau bikin karya kebalikannya. 

Setiap orang adalah buku yang sedang ia tulis, kita memang tidak bisa menjudge seseorang diliat dari luarnya saja. Mereka belum selesai menulis lembar demi lembar kehidupannya. Mungkin mereka juga sedang berjuang untuk kearah ke yang lebih baik begitupun kita-kita ini. keimanan itu memang kudu di maintanance. Di depan itu kita memang tidak tahu, tapi sebenarnya diri kitalah yang mengontrolnya. Melalui terus belajar di majlis ilmu, buku atau teman-teman yang positif juga sangatlah mempengaruhi.
saya pernah membaca bahwa, otak remaja itu sistem logikanya belum terbentuk dengan baik, alias  penyaringannya belum ada. Jadi jikalau tidak dibimbing dengan baik oleh orang dewasa mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Kemungkinan memang bisa salah pilih. Makannya ada yang mengatakan bahwa "mereka sedang mencari jati diri". 

Semoga oprasi alias rajianya bisa bikin jera yak bu, ada perubahan. Jadi inget jaman SMA deh, rajia rambut gondrong atau kuku panjang, eh sekarang ada oprasi gincu. *geleng-geleng

 


Minggu, 04 September 2016

Diet rokok, bisakah?



Banyak yang mengartikan diet dengan pengertian tidak makan, gak sarapan atau makan siang dan makan malam. Padahal menurut berbagai sumber, kalau diet itu berarti mengatur pola makannya, mengurangi porsinya yang biasanya dua centong misalnya jadi setengah centong atau memang menghindari makanan tertentu. 

Issue bahwa rokok akan dinaikan harganya, apakah hanya menjadi isapan jempol belaka  ? Saya melihat DP yang beseliweran di dunia maya, rokok harganya menjadi RP.50.000 bahkan ada yang RP.80.000 . Itu rokok apa daging yak? 

Saya sering banget ngingetin kakak saya yang merokok, dan ngebahas what if harga rokok naik? Dan beliau bilang:

 “Ngeladeni lah, berhenti pastinya”

“beneran?” lah wong sepenglihatan saya, karena harganya masih normal konsumsinya normal seperti biasa. Yah, kali aja gitu kan yah ada berita itu mulai nyicil pembiasaan diet rokok. Karena saya percaya bahwa menghapuskan kebiasaan buruk itu bukan sesuatu hal yang mudah. Gak mungkin kan ujug-ujug berhenti? Pastinya dikurangin sedikit demi sedikit. Untungnya kalau abah udah berhenti ngerokok, itupun awalnya sering saya cerewetin hihihi. Tapi tetep aja sih, kalau orang yang kita maksud belum ada niatan untuk berhenti. Bakalan susah banget, jojong wae kitu. 

Saya agak bingung juga sih, kenapa buku-buku yang ngebahas tentang bahaya merokok, kerugian akibat ngerokok dan terutama jahatnya produsen rokok tuh justru minim sekali bahkan enggak ada atau sulit ditemukan. Dulu jaman SMA, kebetulan di lemari ada buku tentang rokok ini. Judul bukunya”Manfaat rokok bagi anda?”yang ditulis oleh Dr.Usman Ali. Pas baca bukunya, dari sejarah rokok, rokok di negara maju, menurut pandangan kesehatan dan islam disitu kaya dibuka lebar-lebar kalau memang masalah rokok itu sebenarnya sesuatu hal yang sangat serius. 
Ketika di negara-negara maju kesadaran masyarakat akan masalah rokok meningkat. Sehingga mempengaruhi penjualan merokok, dan merosot tajam. Justru para produsen ini mengincar negara-negara miskin.  
Penggalakan merokok di negara-negara miskin merupakan pembudakan gaya baru (Lancet 1984:23-24)


Kita dapet informasinya formalitas saja kan? Cukup liat di bungkus rokok, merokok dapat menyebabkan blab la bla bla. Padahal jahatnya melebihi yang ada di bungkus rokok itu lho. 

Kalau misalkan di angkot, ada yang ngerokok. Udah mah pengap, ada asep pulak. Ditambah lagi kita tahu bahwa itu asep lebih berbahaya kita isap daripada perokoknya itu sendiri. Biasanya saya akan tutup  hidung, mengisyaratkan”Boleh, enggak rokoknya dimatiin dulu” Nah dikodein kaya gitu, ada yang langsung matiin tanpa kita minta. Si mas-mas ini berarti masih ada rasa malu dan peduli. Tapi ada juga yang masa bodo, udah diisyaratin juga. Ada juga yang bahkan sudah ditegur secara sopan pun tetep keukeuh. Jangan segen atau ga enakan kalau masalah kesehatan kaya gini.  

Ditambah lagi dengan iklan-iklan rokok yang indah-indah banget, sok-sok an menginspirasi dan memotivasi. Di sepanjang jalan ga pernah absen iklan rokok . Come on, mau pada stop yang ngerokok apa mau tambah banyak yak? 

Sebenarnya ini tulisan sudah mengendap dari semenjak issue rokok itu ada dan sekarang sepertinya pelaksanaannya belum yah. What if  kalau beneran yah? mungkin kah akan banyak perokok yang berhenti? atau malah takutnya kriminalitas meningkat gara-gara kebutuhan ingin merokok?

Karena jujur saja, mengubah kebiasaan buruk itu memang bisa tapi tidak mudah. Saya saja sok-sok diet nasi dan gorengan tapi kenyataannya memang gak mudah.
Sebelum berhenti merokok, mereka juga pastinya mengurangi sedikit demi sedikit baru bisa benar-benar berhenti. Atau mungkin para perokok ini kudu bikin pengumuman dulu di sosial media "Mohon maaf, jangan nawarin saya rokok, lagi on diet" Karena sesungguhnya lingkungan kita itu berperan sangat besar loh, terutama teman. Ini tuh gara-gara saya nonton cerita Soyou berhasil diet.Jadi dia bikin pengumuman di sosial medianya bahwa jangan ngajakin dia hangout. karena otomatis ketika ngajakin hangout biasanya cemilan kalorinya banyak. Dia nulis di statusnya"saya lagi diet, jangan hubungi saya".
Mungkin kalau belum kuat buat nahan gak ngerokok, mendingan pas ada temen yang mau ngerokok. Kabur aja dulu kemana gitu, daripada ketularan lagi terus dietnya ditunda besoknya lagi terus nanti kaya gitu mulu lagi.

"Mendingan uangnya buat makan bareng keluarga, jalan-jalan, beli barang yang disuka dan investasi. Budget buat rokok sebulan tuh gede banget kalau dihitung-hitung"

Enggak mudah tapi pasti bisa, hargai mereka yang sedang ingin berubah. Semoga bisa ^.^