Daftar Blog Saya

Senin, 10 Juli 2017

Bukan Sekedar Piala

Big hug for "adek-adek" cantik nan unyu-unyu hehe^.^


Beberapa waktu yang lalu sebelum bulan ramadhan, kira-kira seminggu lebih beberapa hari saya baru mengetahui informasi lomba PMR tingkat provinsi di salah satu kampus swasta di daerah serang. Ade-ade yang saya bimbing sering nanya pengen ada kegiatan diluar mungkin mereka jenuh di kelas dan yang paling lucu adalah mereka pengen jalan-jalan ke rumah sakit layaknya mahasiswi kesehatan yang praktik. Tentu saja saya menjelaskan pada mereka bahwa hal itu hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa kesehatan saja. Saya mengerti bahwa rasa keingintahuan mereka begitu besar terhadap apa yang mereka pelajari.

Sebenarnya saya mengambil resiko untuk ikutan lomba. Dimana yang namanya lomba harus siap segala-gala. Tapi menurut saya, jikalau saya tidak mengikuti lomba ini. Entah kapan lagi ada event seperti ini. Akhirnya, Bismillah saya ekesekusi dan langsung Tanya ke kepala sekolah dan guru bagian kesiswaan dan ternyata mereka ngedukung. Luar biasa waktunya numayan mepet bin empet serasa waktu 24 jam masih kurang. Selain itu, ada beberapa kegiatan yang tiba-tiba numpuk di minggu itu. Tapi saya mencoba untuk komitmen di lomba dan kegiatan yang lain juga bisa berjalan. Walaupun disitu saya lagi-lagi diingatkan bahwa kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang, dan semuanya enggak bisa diambil setengah-setengah. 

Saya sendiri mencoba untuk tidak mendikte mereka. Saya ajak diskusi mereka. Mendengarkan dan memberi saran atas ide yang mereka cetuskan. Ternyata memang tidaklah mudah. Apalagi Tingkat SMP memang masih banyak yang harus diarahkan.

Saya jadi teringat dulu jaman SMA pernah ikutan olimpiade biologi, ceritanya baru nyiapin beberapa buku buat bahan bacaan. Beberapa hari kemudian langsung tes. Ngerasa amunisinya ga siap banget dan termasuk dadakan.
Terus ada cerita lucu juga pas kelas tiga SMA, tiba-tiba disuruh gantiin orang buat lomba pidato bahasa inggris dari berbagai sekolah di provinsi Banten. Dimana cuma punya waktu beberapa jam buat nyiapin. Pulang sekolah langsung ke warnet nyari bahan. Malamnya nyusun teks pidato sambil di ingat-ingat materinya. Paginya langsung stress karena ternyata enggak boleh pake teks. But, the show must go on . Saya mencoba melakukan yang terbaik yang saya bisa. Latihan ngoceh-ngoceh di cermin kamar mandi kampus, sampai dijemput sama guru karena waktunya udah deket.  Liat para peserta dari sekolah lain kayanya udah siap banget. Ngerasa jadi remah-remah rempeyek huhuuhu. 

Pas saatnya maju ke depan, saya ngoceh-ngoceh dengan terbata-bata. Didepan nge-blank, tapi saya masih ngoceh-ngoceh aja Cuma gak lancar. Juri bule pun mengernyitkan dahi dan juri dari kita yang tersenyum seakan-akan menyemangati “ayok, kamu bisa”. Saya pun melanjutkan hingga selesai.  Saya udah ngerasa down banget karena bagus-bagusnya peserta yang saya lihat. Sampai suatu ketika entah dari sekolah mana, dia maju dengan penuh meyakinkan. Kami pun para penonton menyimak apa yang akan disampaikannya. 

“Assalamualaikum wr.wb, Iam sorry iam forget. Wassalamualaikum wr.wb” terus dia langsung selesai gitu aja. 

Terus saya melongo aja, saya yang tadi susah payah megap-megap, dia pake kata-kata sakti dan yaudah kata-kata itu jadi viral setelahnya. Kayak virus, benar-benar menular ke teman-teman yang lainnya. Ada beberapa orang termasuk partner saya ikut pakai kata-kata ajaib itu juga. 

Dan ketika melihat adek-adek ngalamin apa yang saya alamin akhirnya saya cuma bisa senyum-senyum saja dan menyemangati mereka. Ada yang panik saking groginya dan ketika semua itu terlewati ada yang curhat ke saya dan saya dengarkan curhatan mereka. Hari itu jadi full day yang enggak akan saya lupakan. Gimana rasanya dulu pernah ada di posisi mereka sebagai peserta lomba  dan gantian gimana deg-degannya jadi yang mendampingi mereka. 

Walaupun hari itu kami mungkin tidak memenangkan pertandingan. Tapi ada hal yang lebih penting dari sekedar kemenangan dan membawa piala yaitu keberanian untuk mencoba. Suatu saat nanti, saya tahu mereka pun akan mengenang ini dan semoga bisa menjadi salah satu motivasi untuk terus mencoba hal baru dan tidak takut berkompetisi. Semoga bisa menjadi ketagihan. Serius, ketagihan dengan hal-hal positif tentunya. 

Karena sekolah bukan hanya sekedar mengejar nilai, begitupun pertandingan bukan hanya sekedar memenangkan prestise dan hadiah. Tapi suatu saat akan menjadi bekal di sekolah kehidupan dimana mungkin akan begitu  banyak pertandingan-pertandingan dalam hidup. Kadang menang  dan kadang kalah adalah bagian dari kehidupan. And when we trying best for that, just have fun for the process......

 

Selasa, 30 Mei 2017

Jatuh Cinta

Terkadang kita sering mengatakan tentang "jatuh cinta" dimana hanya sebatas cinta sepasang kekasih. Padahal maknanya luas sekali. Efek jatuh cinta ini membuat kita dengan rela melakukannya begitu saja, tanpa harus merasa terbebani. Dan menurut saya luar biasa bisa mempengaruhi seseorang.

Let we see, ada seseorang yang jatuh cinta dengan "belanja"  sampai bahkan kalau yang pernah nonton film confessions of a shopaholic pasti bakalan kebayang gimana ketika seseorang mencintai aktivitas "belanja" secara berlebihan akan menyebabkan seseorang lupa. Iyah, beneran lupa mana yang emang urgent untuk dibeli atau sekedar senang membeli dan tidak terlalu dibutuhkan yang akhirnya malah membuat kita boros. Padahal budget itu bisa kita alihkan ke hal-hal lain.

Ada seseorang yang jatuh cinta pada buku. Misalnya saja kemarin-kemarin saya belanja buku bareng temen. Karena memang, sebenarnya niat awal mau belanjanya sekian-sekian aja. Pas udah di lokasi, tiba-tiba khilaf. Ditambah males ke tangerang yang biasanya tinggal naik motor doang dari rumah ke mall, cuma butuh sekian menit. Sekarang seriusan, jarang ke mall. Kaya bingung mau lihat apa gitu gara-gara toko bukunya ngilang*lebay dikit hehehe. Terus temen saya nyeletuk "si anis beli buku, udah kaya beli tas aja". Sebenarnya sih bukan saking banyak duitnya beli buku segitunya dan itu pun udah ditahan enggak ngambil buku lebih banyak lagi. It means masih banyak list buku yang dipengen di hari itu. Kalau di bandingin beli barang fashion dan lain-lain mungkin bisa dapet beberapa. Tapi barang-barang itu bakalan cepet rusak, sebagus-bagusnya barang tersebut. Kalau buku, insya Allah gak ada yang kadaluarsa. Rusak pun, kalau udah dibaca mah bakalan bermanfaat.
Sampai ada yang cerita loh, saking udah cintanya sama buku ada seorang bapak yang lebih milih beli buku daripada membeli emas. Begini nih kalau efeknya udah jatuh cinta.
Berarti nabung ilmu pengetahuan yang berada di dalam buku-buku itu yang sebenarnya mungkin justru ini, yang sebenar-benarnya kaya. Barang-barang ditumpuk-tumpuk bakalan habis, ilang dan rusak. Ilmu pengetahuan ditambahin malah makin haus dan merasa bodoh. 

Dua hal itu bisa jadi gambaran jatuh cinta. Awas jangan sampai kita jatuh cinta pada hal-hal yang kurang bermanfaat atau malah merugikan diri kita sendiri. Semua hal yang ada dalam hidup kita yang jalani dan memilih. Begitupun dengan kita jatuh cinta.

Jangan sampai kita jatuh cinta dengan "malas". Kalau udah begitu enggak kerasa aja kalau kemalasannya bisa merugikannya.
Jangan sampai jatuh cinta dengan makan berlebihan, efeknya bisa jadi obesitas
Mending kita jatuh cinta sama "olah raga" biar badannya bugar dan sehat...
Dan mungkin masih banyak contoh perbandingan antara hal-hal positif dan negatif di sekeliling kita.

Kita lah yang me-manage kompas jatuh cinta kita ke arah kebaikan atau keburukan maka yang terlihat adalah terakumulasi pada diri kita sendiri.  Cenderung kemana kita?

Dan sekarang ini bulan ramadhan. Bulan dimana kebaikan bertebaran di dalamnya. Kalau kita mau memanfaatkan waktu ramadhan ini dengan sebaik-baiknya dan bahkan jatuh cinta dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik di bulan ini. Sungguh sangat beruntunglah kita. Karena ketika kita sudah cinta. Kita tidak akan merasa dipaksa, malah kita yang mencari dan butuh.

Dan mungkin benar, jatuh cinta juga kudu belajar. Mudah-mudahan di bulan ini kita banyak belajar mencintai hal-hal sederhana yang kadang terasa berat tapi sebenarnya bisa kita biasakan.

Selamat jatuh cinta (^.^) 










Jumat, 31 Maret 2017

Where is the energy?

Kemarin-kemarin saya tiba-tiba lagi kangen sama tulisan blogger-blogger yang awal-awal saya baca ketika pertama kali bikin blog. Perasaan saya baru kemarin saya menemukan tulisan-tulisan mereka. Tapi ternyata, waktu yang menurut saya "baru kemarin" itu adalah sudah beberapa tahun yang lalu, dan tentu saja mereka bertumbuh dengan sangat baik. 

Misalnya saja diana rikasari , beliau sekarang bukan hanya blogger saja tapi juga seorang enterpreuner, fashion designer yang bergerak di berbagai produk, dan juga penulis buku. Walaupun sudah aktif di berbagai bidang, beliau masih mengaktifkan blog lamanya. Kemudian benakribo , seorang blogger , content creator, youtuber, dan juga seorang penulis buku. Terus, arief Muhammad , Bang raditya dika dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu serta apa saja yang sekarang mereka lakuin. Karena menurut saya, mereka udah cukup terkenal sehingga mungkin sudah banyak yang tahu. Atau kalau memang tidak tahu mereka, kita tinggal kepoin saja di "mbah google" hehehe.....
 
Oke, kenapa saya tiba-tiba kangen mereka dan jarang buka blognya? mungkin karena mereka juga sudah jarang update blog mereka dan teralihkan oleh berbagai macam content media yang banyak sekali pilihannya serta tanggung jawab baru yang mungkin mereka emban. Walaupun saya masih melihat mereka nongol di beberapa media. Tetap saja, media yang paling saya kangenin itu tulisan mereka. Karena dari tulisan itu ada aja hal menariknya yang bisa diambil moral of story nya atau hanya sekedar hiburan dan informasi, Yah walaupun di beberapa content media mungkin sama. Tapi taste tulisan itu tetep aja beda.

Nah menurut saya mereka kan, udah super kece yah. Ketika saya membaca blog mereka lagi. Ternyata orang-orang yang kaya mereka ini enggak bisa diem. Mereka tuh selalu "berisik" dalam artian punya kegalauan-kegalauan tertentu yang mungkin mereka juga lagi struggling *yaiyalah nis, manusia....

Dari mereka yang menurut saya "berisik", saya jadi tahu bahwa kita tidak sendirian. Dan ketika kita menghadapi keberisikan itu dan nyari orang-orang yang memang ada ke-samaan, akhirnya kita  menemukan energi-energi yang meletup-letup setelahnya. 

Mereka yang selalu bertanya-tanya, 
Kalo kata bang radit mah"temenan sama siapa lagi yah" ketika butuh sesuatu hal baru yang ingin dipelajari. Kalo bang bena "I miss being me"  ketika mungkin banyak hal yang berubah secara tak kita sadari.

Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup itu akan terus bertambah seiringnya pertumbuhan kita. Kadang ada yang sudah terjawab, kemudian datang pertanyaan yang lain lagi. Terkadang kita sudah pernah menghadapi fase-fase itu kemudian menghadapi lagi fase-fase tersebut dalam bentuk lain. 

Menurut saya benar bahwa kita harus sering mengaktifkan "radar pertanyaan" ketika kita sedang menjalani proses apapun. Agar kita juga tidak hanya sekedar robot yang tersetel ngejalani hal-hal itu-itu saja.  

Kalau kata Ika natassa dalam twitternya, kurang lebih intinya begini" Ketika kita membaca fiksi, sebenarnya kita sedang mencari  kesamaan cerita diri kita sendiri". Saya lupa persisnya hahaa. Tapi intinya ketika kita terkoneksi terhadap suatu bacaan, sebenarnya mungkin karena ada ke-samaan yang ada di bacaan tersebut. Makannya kadang kita suka bilang "iyah, gue banget ini".Dari mereka mungkin akan tumbuh energi-energi baru, yang sebenarnya energi-energi itu bertebaran dimana-mana.

The energy is.....

on your coffee in the night 
on your tea in the afternoon
on your favorite book
on your honest writing
on your favorite hobby
on your family 
on your friend 
on the child who smiling at you

............................

If you looking for the energy 
The answer is, on your self  (^.^)
















Minggu, 19 Maret 2017

Jendela dunia yang menghilang

Bagaimana mungkin, suatu budaya bisa tercipta tanpa adanya lingkungan yang memang mendukung terciptanya budaya tersebut. Mungkin bisa saja, tapi alangkah baiknya jika lingkungannya dibuat seakan-akan memang sudah memiliki budaya tersebut. Bukankah ketertarikan akan suatu hal, biasanya berawal dari seringnya kita melihat dan bisa mengaksesnya? Seperti halnya misalkan ketika kita ingin agar anak-anak bisa mencintai ilmu pengetahuan. Tapi kita akrabkan dengan televisi, ditambah lagi kita ikut-ikutan juga. Tak ada buku di lemari ataupun rak. Dan tak pernah melihat kita membaca. Bukankah itu hanya keinginan saja? bukan keseriusan yang ditindak lanjuti? 

Bisa saja lingkungan di rumah mungkin kurang aksesnya, kalau misalkan di luar lingkungan rumahnya  kemungkinan sangat mendukung. Bisa saja terbangun dengan baik. Tapi kalau misalkan tidak juga. Bukankah malahan ini, yang justru budaya ini dan itu hanya akan menjadi sekedar wacana? Maksudnya disini adalah budaya kepada hal-hal positif, misalnya budaya membaca. 

Saya suka heran, mall super gede bisa dibangun, tapi di sisi lain toko buku  di tutup. Banyak sekolah-sekolah yang hampir ambruk, fasilitas kesehatan yang dikorupsi. Industri ini dan itu dibangun, tanpa melihat dampak dari industri tersebut apakah lebih banyak merugikan atau menguntungkan. Jika pembangunan gedung ini dan itu begitu gencar dilakukan, begitu sulitkah untuk membangun fasilitas yang bisa membangun"otak-otak penghuninya". 

Sepertinya kita sudah cukup puas dengan mengaksesnya  melalui internet. Padahal dari tingkat kebenarannya masih disangsikan. Berita-berita hoax mudah sekali viral. Karena masyarakat lebih suka yang praktis-praktis saja. Tanpa mau mengkaji lebih dalam dan membaca lebih banyak. 

Berjam-jam mata kita tak bisa lepas dari ponsel, baca status ini dan itu di sosial media. Artikel berlembar-lembar di internet. Tapi membuka satu lembar buku rasanya males sekali. Begitukah, ke modern-nan telah menggeserkan semuanya jadi lebih praktis? Tapi bagaimana kalau informasi yang kita akses hanya sampah  belaka? Ibarat makanan, yang praktis itu kan "junkfood" tapi dari segi nutrisi begitu kurang. 

Saya bertanya kepada ade-ade remaja SMP yang kalau kita lagi ngumpul sibuk sekali dengan ponselnya. Berapa banyak waktu yang dihabiskan sama ponselnya? Mereka bilang sampai kecapean. Mereka sudah sangat kecanduan dengan dunia digital. Matanya tak berkedip, bahkan ketika ngobrol dan diskusi pun udah dicuekin itu saya didepan. Saya sampe geleng-geleng. Akhirnya suatu ketika saya kumpulin tuh ponsel mereka biar fokus. Sepertinya otak mereka tetap ke ponsel. Setelah selesai dan ketika akan pulang ponsel mereka pun melekat lagi dan langsung sibuk membalas pesan-pesan. Terus ada cerita di sekolahnya dimana satu kelas diulang gara-gara contekan massal dari "mbah google". Canggih bukan?

Mereka lebih suka membaca apa yang ada di ponselnya daripada membaca sekitar dan membaca buku. Ditambah pula , masa di provinsi segede ini, toko buku nya pada di tutup, kan sedih. Menggembar-gemborkan budaya baca. Toko buku aja ga ada, bagaimana ini? Biasanya kalau saya ke mall, selain pelesiran liat-liat atau membeli barang-barang dan kebutuhan tertentu juga suka emang pelesiran buku juga. Entah itu cuma menghabiskan waktu karena sedang menunggu teman, atau sekedar mencairkan otak yang sedang beku. Terus sekarang tempat pelesirannya enggak ada, saya jadi kurang alasan untuk pergi ke mall. 

Sebegitu sepikah peminat buku disini? hingga mereka mungkin merugi. Saya jadi gak kebayang sama ade-ade kita nanti kalau akses ke sumber ilmu pengetahuan saja begitu kurang. Waktu itu saya pernah melihat banner bahwa akan ada gramedia. Tapi, itu pun sampai sekarang belum terlihat perkembangannya. Malah tiba-tiba menghilang begitu saja.



Di lain pihak sebenarnya saya senang karena Perpustakaan Daerah sekarang, menjadi lebih nyaman dibandingkan pas jaman saya masih sekolah. Ditambah lagi sekarang jam bacanya bisa lebih panjang sampai pukul 18.00 dan hari minggu pun buka. Yah, kita positif thinking aja kali yah, mungkin mau ada toko buku  seperti gramedia yang mungkin lebih lengkap dan besar bisa ada di kota tercinta ini.

Katanya buku adalah jendela dunia. Jangan sampai kita kehilangannya. Nanti kita jadi buta terhadap dunia.
 



Selasa, 28 Februari 2017

Crafting dan filosofi hidup

buku 88loveLife 




Jika diana rikasari mengibaratkan hidup itu seperti memasak dimana kita bisa bereksperimen sesuai dengan intuisi kita, yang kadang-kadang justru rasanya malah bisa lebih enak. Maka versi saya adalah mungkin "crafting" dimana setiap proses dan hasilnya selalu tak pernah diduga. Bisa malah tiba-tiba hasilnya jelek tapi kita bisa make over atau dirombak dari awal atau di luar dugaan melebihi bayangan yang udah jadi tujuan awal. 

Setiap selesai crafting saya merasa senang dan akan penasaran kalau hasilnya kurang diharapkan. Senang ternyata apa yang ada di bayangan kepala ternyata bisa berwujud nyata di hadapan mata. Dan percaya enggak percaya ternyata saya bisa menyelesaikannya , yah perasaan-perasaan seperti itulah. 

Terus tiba-tiba jadi berfilosofi sendiri nyambung-nyambungin tentang hidup dan prosesnya. Jadi bisa jadi terapi juga walaupun tenaga nya kudu ekstra tapi kalau ngejalaninnya happy, hasilnya  jadi paying off . 

Bereksperimen itu seru tahu. Kita bukan melihat seberapa melelahkannya menjalani prosesnya. Bukan pula seberapa memusingkannya ketika gagal. Tapi seberapa tangguh kita mau mencoba lagi dan mau menyelesaikannya. 

Ketika saya membaca buku biografi anne avantie, beliau termasuk orang yang bukan "ngegambar dulu" baru gambar itu diaplikasikan dan dijadiin produk. Tapi langsung pegang bahan, dijadiin deh itu produk. Intinya sih bereksperimen secara langsung . Mungkin karena basic beliau yang tidak belajar formal jadi designer. Sehingga justru karya-karya nya begitu unik,misalnya kebaya hasil rancangan beliau yang asimetris yang pada jamannya itu justru terlihat aneh dan tidak umum. Justru karena itu malah jadi pioneer dan jadi trendsetter. 

waktu saya baca buku biografi beliau  , saya ngomong dalam hati "ini mah gue banget". Ngegambarnya apa, yang dibayangin apa, hasilnya apa. Suka beda-beda sendiri. Tapi yah gitu. Enggak banyak mikir. Jalan aja dulu, bikin. Nanti kalau salah bisa diperbaiki atau di make over. 

Dan ceritanya kemaren-kemaren ini bikin tas gendong, bahannya emang milih sendiri dan suka sama corak army ini. Terus punya cangkolan yang niat awalnya mau bikin baju kodok dan ga jadi, yaudah deh jadi dimanfaatin. Dan saya punya tali tas selempang yang saya pretelin dari tas lama yang udah gak kepake dan  memang udah saya buang. Jadinya memang talinya beda warna. Tapi menurut saya jadinya unik. Serius, itu awalnya gak tahu bakalan jadi kaya gini. Setiap orang mungkin punya selera masing-masing. Tapi hasilnya saya suka.


Final result
dilihat dari belakang
Lagi jadi model , dan tas nya yang narsis hahaha           

 In our life, mungkin  kita sudah merencanakan dengan matang segala sesuatunya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Kita ingin ini, ingin itu begini dan begitu. Tapi dalam prosesnya, hidup itu banyak hal yang tak pernah kita duga. Kita bereksperimen didalamnya. Kita mencoba menemukan diri kita sesungguhnya. Kita bisa ko, bahagia jikalau kita mau bersyukur dengan apa yang kita terima saat ini. Dan ketika kita menemukan kesalahan, me-make over apa yang salah itu sebenarnya gak salah. Kita tinggal kasih ornamen-ornamen agar kesalahan itu justru malah membuatnya menjadi indah dan menjadi sesuatu yang baru. Atau kita mulai lagi dari awal, dirombak lagi.  Yang tak boleh itu kita menyerah, kita tidak mau mencoba lagi. Padahal ada hadiah di depan sana yang Allah mau kasih ke kita. Allah  perencana terbaik yang mengetahui yang terbaik untuk diri kita, dan yang bisa kita lakukan saat ini hanya berusaha dengan sebaik-baiknya.