Daftar Blog Saya

Selasa, 30 Mei 2017

Jatuh Cinta

Terkadang kita sering mengatakan tentang "jatuh cinta" dimana hanya sebatas cinta sepasang kekasih. Padahal maknanya luas sekali. Efek jatuh cinta ini membuat kita dengan rela melakukannya begitu saja, tanpa harus merasa terbebani. Dan menurut saya luar biasa bisa mempengaruhi seseorang.

Let we see, ada seseorang yang jatuh cinta dengan "belanja"  sampai bahkan kalau yang pernah nonton film confessions of a shopaholic pasti bakalan kebayang gimana ketika seseorang mencintai aktivitas "belanja" secara berlebihan akan menyebabkan seseorang lupa. Iyah, beneran lupa mana yang emang urgent untuk dibeli atau sekedar senang membeli dan tidak terlalu dibutuhkan yang akhirnya malah membuat kita boros. Padahal budget itu bisa kita alihkan ke hal-hal lain.

Ada seseorang yang jatuh cinta pada buku. Misalnya saja kemarin-kemarin saya belanja buku bareng temen. Karena memang, sebenarnya niat awal mau belanjanya sekian-sekian aja. Pas udah di lokasi, tiba-tiba khilaf. Ditambah males ke tangerang yang biasanya tinggal naik motor doang dari rumah ke mall, cuma butuh sekian menit. Sekarang seriusan, jarang ke mall. Kaya bingung mau lihat apa gitu gara-gara toko bukunya ngilang*lebay dikit hehehe. Terus temen saya nyeletuk "si anis beli buku, udah kaya beli tas aja". Sebenarnya sih bukan saking banyak duitnya beli buku segitunya dan itu pun udah ditahan enggak ngambil buku lebih banyak lagi. It means masih banyak list buku yang dipengen di hari itu. Kalau di bandingin beli barang fashion dan lain-lain mungkin bisa dapet beberapa. Tapi barang-barang itu bakalan cepet rusak, sebagus-bagusnya barang tersebut. Kalau buku, insya Allah gak ada yang kadaluarsa. Rusak pun, kalau udah dibaca mah bakalan bermanfaat.
Sampai ada yang cerita loh, saking udah cintanya sama buku ada seorang bapak yang lebih milih beli buku daripada membeli emas. Begini nih kalau efeknya udah jatuh cinta.
Berarti nabung ilmu pengetahuan yang berada di dalam buku-buku itu yang sebenarnya mungkin justru ini, yang sebenar-benarnya kaya. Barang-barang ditumpuk-tumpuk bakalan habis, ilang dan rusak. Ilmu pengetahuan ditambahin malah makin haus dan merasa bodoh. 

Dua hal itu bisa jadi gambaran jatuh cinta. Awas jangan sampai kita jatuh cinta pada hal-hal yang kurang bermanfaat atau malah merugikan diri kita sendiri. Semua hal yang ada dalam hidup kita yang jalani dan memilih. Begitupun dengan kita jatuh cinta.

Jangan sampai kita jatuh cinta dengan "malas". Kalau udah begitu enggak kerasa aja kalau kemalasannya bisa merugikannya.
Jangan sampai jatuh cinta dengan makan berlebihan, efeknya bisa jadi obesitas
Mending kita jatuh cinta sama "olah raga" biar badannya bugar dan sehat...
Dan mungkin masih banyak contoh perbandingan antara hal-hal positif dan negatif di sekeliling kita.

Kita lah yang me-manage kompas jatuh cinta kita ke arah kebaikan atau keburukan maka yang terlihat adalah terakumulasi pada diri kita sendiri.  Cenderung kemana kita?

Dan sekarang ini bulan ramadhan. Bulan dimana kebaikan bertebaran di dalamnya. Kalau kita mau memanfaatkan waktu ramadhan ini dengan sebaik-baiknya dan bahkan jatuh cinta dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik di bulan ini. Sungguh sangat beruntunglah kita. Karena ketika kita sudah cinta. Kita tidak akan merasa dipaksa, malah kita yang mencari dan butuh.

Dan mungkin benar, jatuh cinta juga kudu belajar. Mudah-mudahan di bulan ini kita banyak belajar mencintai hal-hal sederhana yang kadang terasa berat tapi sebenarnya bisa kita biasakan.

Selamat jatuh cinta (^.^) 










Jumat, 31 Maret 2017

Where is the energy?

Kemarin-kemarin saya tiba-tiba lagi kangen sama tulisan blogger-blogger yang awal-awal saya baca ketika pertama kali bikin blog. Perasaan saya baru kemarin saya menemukan tulisan-tulisan mereka. Tapi ternyata, waktu yang menurut saya "baru kemarin" itu adalah sudah beberapa tahun yang lalu, dan tentu saja mereka bertumbuh dengan sangat baik. 

Misalnya saja diana rikasari , beliau sekarang bukan hanya blogger saja tapi juga seorang enterpreuner, fashion designer yang bergerak di berbagai produk, dan juga penulis buku. Walaupun sudah aktif di berbagai bidang, beliau masih mengaktifkan blog lamanya. Kemudian benakribo , seorang blogger , content creator, youtuber, dan juga seorang penulis buku. Terus, arief Muhammad , Bang raditya dika dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu serta apa saja yang sekarang mereka lakuin. Karena menurut saya, mereka udah cukup terkenal sehingga mungkin sudah banyak yang tahu. Atau kalau memang tidak tahu mereka, kita tinggal kepoin saja di "mbah google" hehehe.....
 
Oke, kenapa saya tiba-tiba kangen mereka dan jarang buka blognya? mungkin karena mereka juga sudah jarang update blog mereka dan teralihkan oleh berbagai macam content media yang banyak sekali pilihannya serta tanggung jawab baru yang mungkin mereka emban. Walaupun saya masih melihat mereka nongol di beberapa media. Tetap saja, media yang paling saya kangenin itu tulisan mereka. Karena dari tulisan itu ada aja hal menariknya yang bisa diambil moral of story nya atau hanya sekedar hiburan dan informasi, Yah walaupun di beberapa content media mungkin sama. Tapi taste tulisan itu tetep aja beda.

Nah menurut saya mereka kan, udah super kece yah. Ketika saya membaca blog mereka lagi. Ternyata orang-orang yang kaya mereka ini enggak bisa diem. Mereka tuh selalu "berisik" dalam artian punya kegalauan-kegalauan tertentu yang mungkin mereka juga lagi struggling *yaiyalah nis, manusia....

Dari mereka yang menurut saya "berisik", saya jadi tahu bahwa kita tidak sendirian. Dan ketika kita menghadapi keberisikan itu dan nyari orang-orang yang memang ada ke-samaan, akhirnya kita  menemukan energi-energi yang meletup-letup setelahnya. 

Mereka yang selalu bertanya-tanya, 
Kalo kata bang radit mah"temenan sama siapa lagi yah" ketika butuh sesuatu hal baru yang ingin dipelajari. Kalo bang bena "I miss being me"  ketika mungkin banyak hal yang berubah secara tak kita sadari.

Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup itu akan terus bertambah seiringnya pertumbuhan kita. Kadang ada yang sudah terjawab, kemudian datang pertanyaan yang lain lagi. Terkadang kita sudah pernah menghadapi fase-fase itu kemudian menghadapi lagi fase-fase tersebut dalam bentuk lain. 

Menurut saya benar bahwa kita harus sering mengaktifkan "radar pertanyaan" ketika kita sedang menjalani proses apapun. Agar kita juga tidak hanya sekedar robot yang tersetel ngejalani hal-hal itu-itu saja.  

Kalau kata Ika natassa dalam twitternya, kurang lebih intinya begini" Ketika kita membaca fiksi, sebenarnya kita sedang mencari  kesamaan cerita diri kita sendiri". Saya lupa persisnya hahaa. Tapi intinya ketika kita terkoneksi terhadap suatu bacaan, sebenarnya mungkin karena ada ke-samaan yang ada di bacaan tersebut. Makannya kadang kita suka bilang "iyah, gue banget ini".Dari mereka mungkin akan tumbuh energi-energi baru, yang sebenarnya energi-energi itu bertebaran dimana-mana.

The energy is.....

on your coffee in the night 
on your tea in the afternoon
on your favorite book
on your honest writing
on your favorite hobby
on your family 
on your friend 
on the child who smiling at you

............................

If you looking for the energy 
The answer is, on your self  (^.^)
















Minggu, 19 Maret 2017

Jendela dunia yang menghilang

Bagaimana mungkin, suatu budaya bisa tercipta tanpa adanya lingkungan yang memang mendukung terciptanya budaya tersebut. Mungkin bisa saja, tapi alangkah baiknya jika lingkungannya dibuat seakan-akan memang sudah memiliki budaya tersebut. Bukankah ketertarikan akan suatu hal, biasanya berawal dari seringnya kita melihat dan bisa mengaksesnya? Seperti halnya misalkan ketika kita ingin agar anak-anak bisa mencintai ilmu pengetahuan. Tapi kita akrabkan dengan televisi, ditambah lagi kita ikut-ikutan juga. Tak ada buku di lemari ataupun rak. Dan tak pernah melihat kita membaca. Bukankah itu hanya keinginan saja? bukan keseriusan yang ditindak lanjuti? 

Bisa saja lingkungan di rumah mungkin kurang aksesnya, kalau misalkan di luar lingkungan rumahnya  kemungkinan sangat mendukung. Bisa saja terbangun dengan baik. Tapi kalau misalkan tidak juga. Bukankah malahan ini, yang justru budaya ini dan itu hanya akan menjadi sekedar wacana? Maksudnya disini adalah budaya kepada hal-hal positif, misalnya budaya membaca. 

Saya suka heran, mall super gede bisa dibangun, tapi di sisi lain toko buku  di tutup. Banyak sekolah-sekolah yang hampir ambruk, fasilitas kesehatan yang dikorupsi. Industri ini dan itu dibangun, tanpa melihat dampak dari industri tersebut apakah lebih banyak merugikan atau menguntungkan. Jika pembangunan gedung ini dan itu begitu gencar dilakukan, begitu sulitkah untuk membangun fasilitas yang bisa membangun"otak-otak penghuninya". 

Sepertinya kita sudah cukup puas dengan mengaksesnya  melalui internet. Padahal dari tingkat kebenarannya masih disangsikan. Berita-berita hoax mudah sekali viral. Karena masyarakat lebih suka yang praktis-praktis saja. Tanpa mau mengkaji lebih dalam dan membaca lebih banyak. 

Berjam-jam mata kita tak bisa lepas dari ponsel, baca status ini dan itu di sosial media. Artikel berlembar-lembar di internet. Tapi membuka satu lembar buku rasanya males sekali. Begitukah, ke modern-nan telah menggeserkan semuanya jadi lebih praktis? Tapi bagaimana kalau informasi yang kita akses hanya sampah  belaka? Ibarat makanan, yang praktis itu kan "junkfood" tapi dari segi nutrisi begitu kurang. 

Saya bertanya kepada ade-ade remaja SMP yang kalau kita lagi ngumpul sibuk sekali dengan ponselnya. Berapa banyak waktu yang dihabiskan sama ponselnya? Mereka bilang sampai kecapean. Mereka sudah sangat kecanduan dengan dunia digital. Matanya tak berkedip, bahkan ketika ngobrol dan diskusi pun udah dicuekin itu saya didepan. Saya sampe geleng-geleng. Akhirnya suatu ketika saya kumpulin tuh ponsel mereka biar fokus. Sepertinya otak mereka tetap ke ponsel. Setelah selesai dan ketika akan pulang ponsel mereka pun melekat lagi dan langsung sibuk membalas pesan-pesan. Terus ada cerita di sekolahnya dimana satu kelas diulang gara-gara contekan massal dari "mbah google". Canggih bukan?

Mereka lebih suka membaca apa yang ada di ponselnya daripada membaca sekitar dan membaca buku. Ditambah pula , masa di provinsi segede ini, toko buku nya pada di tutup, kan sedih. Menggembar-gemborkan budaya baca. Toko buku aja ga ada, bagaimana ini? Biasanya kalau saya ke mall, selain pelesiran liat-liat atau membeli barang-barang dan kebutuhan tertentu juga suka emang pelesiran buku juga. Entah itu cuma menghabiskan waktu karena sedang menunggu teman, atau sekedar mencairkan otak yang sedang beku. Terus sekarang tempat pelesirannya enggak ada, saya jadi kurang alasan untuk pergi ke mall. 

Sebegitu sepikah peminat buku disini? hingga mereka mungkin merugi. Saya jadi gak kebayang sama ade-ade kita nanti kalau akses ke sumber ilmu pengetahuan saja begitu kurang. Waktu itu saya pernah melihat banner bahwa akan ada gramedia. Tapi, itu pun sampai sekarang belum terlihat perkembangannya. Malah tiba-tiba menghilang begitu saja.



Di lain pihak sebenarnya saya senang karena Perpustakaan Daerah sekarang, menjadi lebih nyaman dibandingkan pas jaman saya masih sekolah. Ditambah lagi sekarang jam bacanya bisa lebih panjang sampai pukul 18.00 dan hari minggu pun buka. Yah, kita positif thinking aja kali yah, mungkin mau ada toko buku  seperti gramedia yang mungkin lebih lengkap dan besar bisa ada di kota tercinta ini.

Katanya buku adalah jendela dunia. Jangan sampai kita kehilangannya. Nanti kita jadi buta terhadap dunia.
 



Selasa, 28 Februari 2017

Crafting dan filosofi hidup

buku 88loveLife 




Jika diana rikasari mengibaratkan hidup itu seperti memasak dimana kita bisa bereksperimen sesuai dengan intuisi kita, yang kadang-kadang justru rasanya malah bisa lebih enak. Maka versi saya adalah mungkin "crafting" dimana setiap proses dan hasilnya selalu tak pernah diduga. Bisa malah tiba-tiba hasilnya jelek tapi kita bisa make over atau dirombak dari awal atau di luar dugaan melebihi bayangan yang udah jadi tujuan awal. 

Setiap selesai crafting saya merasa senang dan akan penasaran kalau hasilnya kurang diharapkan. Senang ternyata apa yang ada di bayangan kepala ternyata bisa berwujud nyata di hadapan mata. Dan percaya enggak percaya ternyata saya bisa menyelesaikannya , yah perasaan-perasaan seperti itulah. 

Terus tiba-tiba jadi berfilosofi sendiri nyambung-nyambungin tentang hidup dan prosesnya. Jadi bisa jadi terapi juga walaupun tenaga nya kudu ekstra tapi kalau ngejalaninnya happy, hasilnya  jadi paying off . 

Bereksperimen itu seru tahu. Kita bukan melihat seberapa melelahkannya menjalani prosesnya. Bukan pula seberapa memusingkannya ketika gagal. Tapi seberapa tangguh kita mau mencoba lagi dan mau menyelesaikannya. 

Ketika saya membaca buku biografi anne avantie, beliau termasuk orang yang bukan "ngegambar dulu" baru gambar itu diaplikasikan dan dijadiin produk. Tapi langsung pegang bahan, dijadiin deh itu produk. Intinya sih bereksperimen secara langsung . Mungkin karena basic beliau yang tidak belajar formal jadi designer. Sehingga justru karya-karya nya begitu unik,misalnya kebaya hasil rancangan beliau yang asimetris yang pada jamannya itu justru terlihat aneh dan tidak umum. Justru karena itu malah jadi pioneer dan jadi trendsetter. 

waktu saya baca buku biografi beliau  , saya ngomong dalam hati "ini mah gue banget". Ngegambarnya apa, yang dibayangin apa, hasilnya apa. Suka beda-beda sendiri. Tapi yah gitu. Enggak banyak mikir. Jalan aja dulu, bikin. Nanti kalau salah bisa diperbaiki atau di make over. 

Dan ceritanya kemaren-kemaren ini bikin tas gendong, bahannya emang milih sendiri dan suka sama corak army ini. Terus punya cangkolan yang niat awalnya mau bikin baju kodok dan ga jadi, yaudah deh jadi dimanfaatin. Dan saya punya tali tas selempang yang saya pretelin dari tas lama yang udah gak kepake dan  memang udah saya buang. Jadinya memang talinya beda warna. Tapi menurut saya jadinya unik. Serius, itu awalnya gak tahu bakalan jadi kaya gini. Setiap orang mungkin punya selera masing-masing. Tapi hasilnya saya suka.


Final result
dilihat dari belakang
Lagi jadi model , dan tas nya yang narsis hahaha           

 In our life, mungkin  kita sudah merencanakan dengan matang segala sesuatunya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Kita ingin ini, ingin itu begini dan begitu. Tapi dalam prosesnya, hidup itu banyak hal yang tak pernah kita duga. Kita bereksperimen didalamnya. Kita mencoba menemukan diri kita sesungguhnya. Kita bisa ko, bahagia jikalau kita mau bersyukur dengan apa yang kita terima saat ini. Dan ketika kita menemukan kesalahan, me-make over apa yang salah itu sebenarnya gak salah. Kita tinggal kasih ornamen-ornamen agar kesalahan itu justru malah membuatnya menjadi indah dan menjadi sesuatu yang baru. Atau kita mulai lagi dari awal, dirombak lagi.  Yang tak boleh itu kita menyerah, kita tidak mau mencoba lagi. Padahal ada hadiah di depan sana yang Allah mau kasih ke kita. Allah  perencana terbaik yang mengetahui yang terbaik untuk diri kita, dan yang bisa kita lakukan saat ini hanya berusaha dengan sebaik-baiknya. 


 

Kamis, 23 Februari 2017

Ternyata kita sudah kaya

Ada yang mengatakan kita tidak bisa hidup tanpa uang. Mungkin kata-kata ini sering kita dengar entah dimana. Tapi jadi mengingatkan saya tentang film favorit saya "boys before flowers". Itu loh film korea yang ngehits banget. Cerita antara 4 pemuda kaya, dan cewek sederhana. Suatu ketika Geum Jan-di beradu pendapat dengan koo jun- pyo, ni orang dua emang ribut mulu. Koo jun-pyo keukueh, apapun bisa dibeli dengan uang. Sedangkan Geum jan-di keukeuh enggak semuanya bisa dibeli dengan uang. Adu pendapat yang numayan panjang akhirnya jun-pyo menang, kata dia "apa yang enggak bisa dibeli dengan uang?"

Jan-di termenung cukup lama, keyakinannya mulai goyah. Dia sempat berpendapat "sahabat sejati". Tapi jun-pyo malah memberi contoh-contoh akurat. Kemudian dia bertanya kepada Ji-Hu
"Di dunia ini apa yang tidak bisa dibeli dengan uang?"
"oksigen?"
"huhh, kenapa aku tidak kepikiran yah?"

Kira-kira begitulah sedikit cerita tentang drama favorit saya. Karena saya sudah lama tidak nonton jadi dimaklumin kalau ada yang salah hehehe

Kalau menurut saya, sebenarnya dua-duanya benar yah? semua hal dalam hidup memang membutuhkan uang. Tapi ada juga hal-hal yang tidak dapat dibeli. 

Beberapa waktu yang lalu saya menjenguk seseorang yang sakit, padahal beberapa waktu yang lalu pula saya masih melihat beliau masih sangat segar bugar. ketika pas harus makan, beliau hanya makan sedikit sekali kira-kira satu sendok. "enggak enak bu" sambil memalingkan muka tanda tidak mau suapan berikutnya. 

Pada waktu itu saya jadi inget diri sendiri, betapa ketika kita sakit makan itu adalah perjuangan banget. Kalau di rumah, karena kakak saya pencerita yang bikin kita yang mendengarnya jadi tiba-tiba semangat. Bahkan orangtua pun kalau mendengar ceritanya, itu bubur di hadepan bisa dengan lahap dihabiskan. 

"Manusia itu harus makan. Ayo, paksa-paksa. Enggak enak tapi harus" sambil ngomong kalau kita itu berharga. Yes, your life is not your own life. Kita itu kepunyaan orang-orang yang kita sayang. Jadi kalau kita sakit, orang-orang yang sayang dengan kita pun ikut sedih. 

Sejenak termenung melihat betapa susahnya menyuapi, sebenarnya saya menyemangati dalam hati. "ayo pak, semangat"  karena mau ngomong ga enak jadinya ngobrol-ngobrol aja deh sama si ibu yang juga udah kewalahan.

Eh, dua hari kemudian saya demam. Ualah hahaha, saya menghadapi bubur lagi. Bubur oh bubur mengapa kau tak enak sekali. Kebiasaan kalau saya sakit, saya orangnya manja banget. Enggak sih cuma pengen disuapin doang. Kayanya kalau sendiri itu perjuangannya banget-banget. Kalau disuapin minimal ada yang maksain. Kalau lagi di sekolah dulu, saya biasanya minta disuapin pas istirahat sama temen hihihi. Tapi pas udah agak mendingan saya mikir juga, what if, kalau suatu hari saya lagi sendirian gak ada orang di rumah atau sedang bepergian dimana gitu, yang akhirnya saya mikir. Ini bubur harus saya habiskan. walaupun itu  rasa-rasanya begimana akhirnya maksain juga, tanpa disuapin orang lain. Rasanya itu salah satu keberhasilan juga yah, yeay aku menang dari bubur hahaha

Otak sih mikirnya udah lari-lari kesana kemari. Tapi badan ga bisa kemana-mana. Pernah ngerasain kaya gini? yaiyalah orangan lagi sakit.

Disitu jadi ngerasa bahwa, sebenarnya sehat itu kekayaan kita sesungguhnya. Nikmat luar biasa, yang terkadang jarang kita sadari. boro-boro kita ga bisa ngapa-ngapain. pilek atau batuk aja, kita udah merasa ga nyaman mo ngapa-ngapain. Melaksanakan aktifitas biasa dengan tanpa hambatan ternyata sangat menyenangkan. keluar kesana kemari dan ketemu orang. 

Bayangin aja kalau musti bayar oksigen, seperti kata jan-di. Sekaya-kaya nya yah tetep aja ada batasnya. Kaya mungkin bisa "membeli kehidupan layak" tapi tidak bisa menghindari kematian. Mencintai diri sendiri adalah satu cara mencintai orang-orang yang menyayangi kita. Allah itu udah ngasih banyak hal banget, termasuk kesehatan. Allah itu penyayang banget. Banyak-banyak bersyukur^.^












Kamis, 19 Januari 2017

Perfect Blooming








The flowers are blooming
The light is on

Many people are coming to celebrate
Crowd good hope for two of them
They have a role be king and queen on this day

Lots of smiling faces caught on camera
Happines is spreading to everyone
Like fragerance fragant of flower

If, love is like a flower
When two of them falling in love
Then celebrete with the wedding
The flower be a perfect blooming





Sabtu, 31 Desember 2016

Semua itu berawal dari "ke-tidakjelasan"



Hai 2016, you are awesome…….

Setelah saya melihat-lihat blog sederhana saya ini. Daebak! Ternyata saya bisa merutinkan menulis walaupun kadang sebulan cuma satu biji hahaha. Aktifitas menulis saya mungkin masih belum begitu banyak. Tapi menurut saya tahun ini pencapaian yang lumayanlah. Sebenarnya saya tidak membuat target menulis sebulan kudu berapa tulisan. Cuma niat pokoknya rutin menulis. 

Ternyata ketika ada keinginan seperti itu, otomatis otak kita bikin alarm. Misalnya setiap bulan, entah di awal bulan saya posting tulisan atau pas di akhir bulan tulisan belum juga ada yang diposting, saya jadi kaya ngomong sendiri” woy, nulis woy”. Jadi pas lagi paling malesnya, yah satu bulan cuma satu biji doang. 

Lihatlah tulisan saya yang di tahun-tahun awal di 2009, omegot bikin saya malu sendiri sebenarnya. Kaya diary tulisan anak SMP, numayan alay. Tapi biarinlah saya enggak mau hapus. Bagaimanapun itu adalah karya saya. Dulu tuh cuma iseng bikin blog gara-gara saya numayan gaptek sama internet. Pas di rumah pasang internet, saya banyak mengexplore , internet itu bisa apa aja yah. Jadilah nyasar di blog orang yang waktu itu temen chatting di yahoo. 

Saya suka nyaranin temen untuk bikin blog, dan hampir jawabannya selalu sama “gue mau isi apa?” atau “gue udah bikin blog, tapi bingung mau nulis apa”. Sebenarnya saya dulu juga tanpa mikir, yah bikin aja. Posting tulisan-tulisan ga tau arahnya dan gambar-gambar iseng ga jelas. Yups berawal dari "ke-tidakjelasan". 

Sering sih menulis tapi alakadarnya, terus kebiasaan nyimpen tulisan-tulisan yang enggak utuh dan enggak selesai. Saya pikir menulis dan membaca itu tidak bisa dipisahkan. Jadi ketika teman saya demen baca buku, saya kira dia juga bakalan demen nulis. Ternyata enggak begitu juga. Perumpamaannya seperti orang yang doyan makan belum tentu bisa masak. Menulis juga termasuk keterampilan, harus diasah ternyata. Belum tentu banyaknya isi kepala kita, berbanding lurus dengan kemampuan kita untuk menuliskannya. 

Baru dua tahun terakhir ini, saya numayan mengaktifkan menulis dengan numayan serius, *ciyah so serius. Setelah saya ingat-ingat ternyata dari keisengan ikutan kompetisi juga jadi banyak pembelajaran. Salah satunya adalah belajar untuk menyelesaikan tulisan dan enggak takut untuk mengemukakan ide. Karena sebelum ikutan, di laptop banyak banget tulisan-tulisan yang enggak utuh, kebanyakan mikir kalau mau posting. Iyah, merasa enggak cukup aja dan ditunda-tunda ditambah niatnya kurang.

Makin kesini udah numayan merasa enjoy
 Punya cerita kenorak-an tentang sesuatu? yah ditulis,
 Marah tentang sesuatu yah ditulis, 
Bahagia atau sedih? yah ditulis,
 Lagi merasa galau yah ditulis

Berkarya itu, berawal dari sesuatu yang amatir, tidak langsung profesional. Tapi kebanyakan dari kita merasa takut memulai dan merasa kurang mampu. Padahal dengan memulai, walaupun mungkin pada awalnya terlihat konyol dan jelek. Sebenarnya kita sedang melakukan perjalanan. Dan perjalanan tidak harus diawali dengan langkah yang besar, tapi bisa dimulai dengan langkah kecil. Dan suatu saat kita akan menemukan jalan-jalannya, ke arah mana jalan yang sedang kita tempuh tersebut. 

an amazing things start from a bad things 

Menjadi film maker dimulai dari  film yang jelek
Menjadi penulis dimulai dari tulisan yang jelek
menjadi ilustrator dimulai  dari hasil gambar yang jelek
menjadi fotografer dimulai dari hasil poto yang jelek

Dan semuanya dimulai dari hal-hal yang sederhana, dari benda-benda yang ada di sekitar kita. Karya apapun itu kita hargai prosesnya. Makin kesini, menurut saya menulis itu untuk merekam perjalanan. Ketika membaca ulang jadi punya keseruan tersendiri, selain itu juga sebagai therapy untuk menasehati diri sendiri.

Saya sendiri masih terus belajar dan belajar, apapun itu^.^

Yuk bikin, walaupun jelek
Yuk dimulai, walaupun ga gampang 

semangat.......